SEJARAH GEREJA
GPIB GIBEON JAKARTA
SEJARAH GEREJA
GPIB GIBEON JAKARTA

PENGANTAR

Pekerjaan Allah tidak berakhir pada saat penciptaan selesai. Allah berjanji tidak akan meninggalkan perbuatan tanganNya. Dengan KasihNya Allah terus berkarya untuk menjaga, memelihara, dan melindungi ciptaannya. Karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus merupakan titik Sentral dari seluruh karya Allah bagi umat manusia di seluruh dunia. Intinya Gereja sebagai lembaga atau institusi terus berkembang bersamaan dengan perkembangan waktu dan hal ini merupakan bukti dari pekerjaan Allah Roh Kudus. Dan kehadiran Jemaat GPIB Gibeon adalah salah satu di antaranya.

Berawal  dari kelompok kecil yang terdiri dari belasan keluarga Kristen yang mulanya tidak saling mengenal, dipertemukan dan dipersatukan oleh Tuhan dalam persekutuan kecil, menggunakan tempat kecil (dapur) dalam komplek perumahan Arhanud Bintaro Kodam Jaya. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok kecil ini diberkati Tuhan menjadi pos/sektor/ bagian jemaat dari Jemaat Effatha Jakarta. Karena dinilai telah memenuhi syarat, kemudian dilembagakan pada tanggal 22 Maret 1987 menjadi Jemaat GPIB Gibeon sebagai jawaban dari pergumulan dan kebutuhan pelayanan. Proses kehadiran Jemaat Tuhan di daerah Pesanggrahan Bintaro  atau Pondok Betung  dan daerah sekitarnya. Menjadi rencana Allah dalam menghadirkan Damai Sejahtera bagi warga Jemaatnya, yaitu 7 keluarga yang diutus dari Jalan Mangunsarkoro No. 10  Jakarta Pusat ke Komplek Artileri Kodam Bintaro Jakarta Selatan pada tahun 1973, dan pada tahun berikutnya 1974, ada penambahan empat keluarga lagi, sehingga keseluruhan menjadi  sebelas keluarga. Dari ke sebelas keluarga inilah cikal bakal timbulnya suatu persekutuan yang insiatif dan keyakinan bahwa Tuhan hadir bersama mereka. Diawali dengan kunjugan dari rumah ke rumah atau keluarga yang dilakukan oleh Mathijs Mantulameten dan hal  ini mendapat respon positif, dilanjutkan dengan upaya melaporkan kepada Majelis Jemaat GPIB Effatha di Jl. Melawai I Kebayoran Baru guna mendapatkan pelayanan dan kepada Komandan Kesatuan Ardanud RI utuk mendapatkan tempat/ruang  ibadah. Kerinduan untuk bersekutu dan mendapatkan tempat yang layak berhasil karena penyertaan Kristus sebagai Kepala gereja sehingga pada tanggal 5 Agustus 1974 dilakukan peresmian ruang ibadah di dapur Blok R dengan Jumlah warga jemaat 35 kepala keluarga. Melihat perkembangan dan pertambahan warga jemaat dan prasarana ibadah yang sangat terbatas maka pada tahun 1975 dengan bantuan Wim Samallo diupayakan pencarian lokasi guna memperlancar usaha tersebut maka pada tahun 1976 dibentuk panitia I yang diketuai oleh Max Van Bergen. Maka pada tahhun 1979 diperoleh lokasi tanah seluas 1.114 meter persegi.

POS PESANGGRAHAN

Kegiatan di pos pelayanan Pesanggrahan inilah yang menjadi pusat perhatian  karena dari sinlah muncul embrio terbentuknya Jemaat GPIB  Gibeon. Pada tahun1974 aktivitas mereka terhenti karena kelompok Kristen Protestan bergabung mengikuti kegiatan kerohanian di komplek Kodam Bintaro yang relative sudah berlangsung  lebih teratur. Sebagai akibatnya pada tahun 1975 jumlah warga jemaat bertambah menjadi 38 kepala keluarga. Hal ini mendorong duet maut Penatua Yermias Manafe dan Diaken Mathijs Mantulameten untuk melayani keluar. Ada delapan wilayah yang kemudian dijelajahi meliputi Kelurahan Pesanggrahan, komplek Meteorologi, komplek Bintaro Jaya, komplek Polri Ulujami, komplek Bintaro Mulya, wilayah Jalan Harapan, Komplek IKPN, dan wilayah Nimun Raya.

Kegiatan KAKR mulai diadakan bulan September 1974 yang dipimpin oleh Ch.Boetje Taliak yang setahun kemudian menjadi koordinator KAKR Bagian Jemaat VI Effatha. Dengan tugas yang makin bertambah maka bapak Boetje Taliak mengajak teman-teman untuk terlibat dalam pembinaan KAKR di wilayah Pesanggrahan Pondok Betung. Mereka yang tergabung adalah : Ny. Laksamina Sinay, Ny. Sien Muskita, Sdri. Charllota Wattilete, Ny. Manuputty-Posumah, Moli Pirsow, Boetje Salamanu, Sdri. Tety Harahap, Ny. Sien Sahanaya, dan Sdri. Frida Kuhuwael.

Meluasnya wilayah pelayanan ini diikuti dengan penambahan pos-pos pelayanan KAKR baru, yakni Pos Pelayanan Meteorologi di tempat keluarga Supono, Pos Pelayanan Penerangan di keluarga M.E. Kuhuwael, Pos Pelayanan Jurang Manggu di keluarga Macpal, Pos Pelayanan Nimun Raya di keluarga H.K Ririhena, Pos Pelayanan Uniliver di keluarga M.T. Angkuw, Pos Pelayanan Bintaro Jaya di keluarga Tuapattinaya, Pos Pelayanan Kesehatan di keluarga P.Ririhena, dan Pos Pelayanan Pondok Betung di keluarga W. Samalo.

Sejak tahun 1983, BPK KAKR dipecah menjadi dua: BPK Pelayan Anak (BPK-PA) dan BPK Persekutuan Taruna (BPK-PT). Sampai diresmikannya GPIB Gibeon pada tanggal 22 maret 1987, dalam posisinya sebagai anggota badan pimpinan KAKR Jemaat GPIB Effatha Bajem VI, Boetje Taliak tetap mengendalikan dan melayani BPK-PT di lingkungan Pesanggrahan. 

Seiring dengan berjalannya waktu jumlah warga jemaat Pesanggrahan pun sudah makin bertambah dan pada tahun 1976 jumlah kepala keluarga sudah mencapai 56 KK. Memperhatikan keadaan ini, maka pada tahun 1978 bapak J.K Tumakaka yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris PHMJ GPIB Effatha, mengambil kebijaksanaan dengan menugaskan tujuh warga jemaat setempat untuk membantu tugas pelayanan di sektor Pesanggrahan (Pondok Betung).  

Tujuh Warga Jemaat yang diutus dan diberi tugas tambahan yaitu: 

  1. Martinus Renyaan diberi tugas urusan BPK.
  2. Hendrik Konstantinus Ririhena diberi tugas untuk urusan Bendahara.
  3. Otto Samuel Lantang diberi tugas untuk urusan umum.
  4. Reinhardt Wattimury diberi tugas untuk urusan tata usaha.
  5. Sudaryono diberi Tugas untuk urusan yg berkaitan dengan BPK.
  6. H.P. Nainggolan
  7. M.I Nicky Ginoga
PELAYANAN MELUAS DAN BERIMBANG

Periode 1979-1984. Pada pemilihan ini terpilih empat anggota majelis GPIB Effatha Bajem VI asal sektor Pesanggrahan. Mereka masing-masing adalah Mathijs Mantulameten, Rudy N.F Tambayong , D.A. Lombogia sebagai penatua, dan Ny. S.C Siahaya-Taliak sebagai Diaken. Rincian tugasnya, penatua Rudy Tambayong merangkap sebagai penanggung jawab sektor, Mathjis Mantulameten sebagai wakil tanggung jawabnya sedangkan diaken Ny S.C Siahaya-Taliak sebagai pimpinan BPK-PW.  Pada saat itu sudah bertambah menjadi 89 kepala keluarga.

Pada saat itu terjadi pula pengelompokan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi wilayah pelayanan yang hanya terdiri dari lima sektor.

Pertama : Sektor Rempoa dengan penanggung jawab penatua L.Rumono

Kedua      : Sektor Pesanggrahan dengan penanggung jawab penatua Rudy N.F Tambayong

Ketiga      : Sektor Pondok Pinang dengsn penanggung jawab penatua PJ. Halauw

Keempat : Sektor Cidodol dengan penanggung Jawab penatua C.A Scheffmann

Kelima      : Sektor Cileduk dengan penanggung jawab penatua A. Siagian

Pada Tahun 1984 GPIB Effatha mengadakan pemilihan majelis masa bakti 1984-1988 yang disesuaikan dengan tata gereja GPIB yang baru. Yaitu dengan perhitungan dua presbiter terdiri dari satu penatua dan satu diaken untuk melayani 15 keluarga sesuai dengan sensus pada waktu itu. Dalam pemilihan tersebut telah terpilih dan ditahbiskan 232 majelis terdiri dari 164 majelis pria dan 68 majelis wanita. Dari jumlah tersebut terdapat 19 majelis dari warga jemaat sektor Pesanggrahan yang terdiri dari 4 majelis wanita dan 15 majelis pria. Melihat perkembangan yang terjadi di Bajem XIV Pesanggrahan yang semakin mantap maka melalui keputusan majelis jemaat tanggal 26 April 1985 dan 12 September 1986 telah ditetapkan bagian jemaat tersebut siap untuk dilembagakan. Majelis Sinode menetapkan Pendeta E.Kaligis ke jemaat GPIB Effatha terhitung tanggal 21 Mei 1986 dengan tugas mempersiapkan Bajem XIV menjadi jemaat GPIB. Namun maksud tersebut tidak tercapai karena yang bersangkutan mengundurkan diri tanggal 9 Agustus 1985 karena perbedaan pendapat antara beliau dengan Majelis Jemaat GPIB Effatha. Ada lima anggota majelis yang diutus untuk persoalan ini antara lain : penatua H.P.Nainggolan, penatua M.T.Angkuw, penatua Marthinus Renyaan, penatua M.I. Nicky Ginoga, dan diaken Wagimin Sartono.

Berkat pimpinan Tuhan Yang Maha Kuasa serta kerja sama seluruh warga jemaat yang telah merindukan tempat peribadahan yang permanen maka sesudah bulan persiapan di bawah arahan Pendeta Mailoa, maka Bagian Jemaat XIV Pesanggrahan dapat dilembagakan menjadi Jemaat GPIB Gibeon yang ke-176. Ibadah pelembagaan dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 1987, pada saat pelembagaan, jumlah warga jemaat terdiri dari 155 kepala keluarga, 324 anggota sidi dan 734 jiwa.

PROSES PEMBANGUNAN

Membantu dan memperlancar usaha para perintis pencarian lokasi dibentuklah panitia pertama yang disebut Panitia Pembangunan Gereja Jemaat VI dengan ketuanya, Max Van Bergen. Panitia pertama (I) hanya bertugas selama enam bulan karena pada bulan April 1977 dibentuklah Panitia II dengan ketuanya, D.A. Lombogia, menggantikan Max Van Bergen. Tanah seluas 1.114 meter persegi yang terletak di Jalan Pesanggrahan indah No 50 di beli dengan harga Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) berdasarkan akta notaris singgih No. 88/III/1979. Pembelian ini dimungkinkan berkat kerja sama para perintis bersama bapak Wim Samallo dan D.A Lombogia sebagai ketua Panitia II pembangunan gereja. Memasuki tahun 1981 terjadi lagi perubahan dengan pembentukan Panitia III dimana ketua pembangunan gereja diganti, dari W.A Lombogia menjadi M.Denso. Namun periode kepanitiaan M.Denso tidak banyak yang dapat dilakukan karena beberapa kesulitan, hal ini menyebabkan Pantia III seolah olah berjalan di tempat, lalu dibentuklah Panitia lokal atau bisa dikatakan Panitia IV menggantikan Panitia III dan diketuai oleh Mattitawaer. Dengan panitia baru ini pekerjaan sudah mulai terarah, pertama-tama dengan pengurusan surat-surat tanah dengan segala perizinan, gambar bangunan gereja dan pembangunan fisik gereja. Kemudian pada bulan Februari 1985 keluarlah Surat Keputusan Majelis Sinode Nomor  1079/85/MS/XIII/Kpts yang membentuk Panitia V dengan diketuai oleh Thory A. Tulaar. Tugas panitia baru ini adalah melanjutkan pembangunan fisik gedung gereja di Bajem XIV Pesanggrahan Jemaat GPIB Effatha.

Menindaklanjuti surat keputusan majelis sinode ini, Thory A. Tulaar dalam kepasitasnya sebagai ketua Pembangunan Gereja Jemaat GPIB Effatha Bajem XIV membentuk tim kerja dengan susunan sebagai berikut :

Ketua                : Thory A. Tulaar

Wakil ketua      : G.Palar

Sekretaris I       : Frans Takasihaeng

Sekretaris II      : H.L. Robot

Bendahara I      : H. Konstantinus Ririhena

Bendahara II     : A.F.X. Suharsono

Bidang Dana     : Paul M. Ririhena

Bidang Teknik   : R. Bimbuain

Bidang Logistik : H.G. Rumokoy dan R. Posumah

Pertama-tama tim baru ini mulai menginventarisasikan pekerjaan yang sudah diselesaikan sebelumnya oleh Panitia I sampai IV sambil menyelesaikan surat-surat yang diperlukan untuk pembangunan. Tahap penting lainnya adalah biaya pembangunan dan untuk itu mereka menyusun anggaran yang pada waktu itu mencapai hampir Rp.90 juta, tepatnya Rp. 88.663.446.

NAMA GIBEON

Sejak Awal kepanitiaan diputuskan untuk memberi nama kepada gedung gereja yang akan dibangun. Untuk itu semua warga jemaat diajak berpartisipasi untuk memikirkan dan mengusulkan nama gedung gereja dan dalam rapat di ruang ibadah Blok R Kodam Bintaro antara panitia pembangunan dengan Majelis Jemaat Bajem XIV Pesanggrahan. Nama “Bukit Horeb” muncul sebagai salah satu alternatif. Kemudian dicari penjelasan secara Alkitabiah tentang nama “Bukit Horeb” yang dianggap kurang atau tidak pas untuk diberikan pada gedung gereja . Secara Alkitabiah, nama “Bukit Horeb” tidak sesuai karena tingginya yang melebihi 2000 meter sehingga lebih cocok jika disebut “Gunung Horeb”. Kemudian, dalam salah satu pertemuan, Ketua Panitia Pembangunan bapak Thory Tulaar mengusulkan pemberian nama “Gibeon” karena menurut sejarah banyak sekali peristiwa penting yang terjadi di sana. Gibeon merupakan tempat persembahan paling besar dan kisah tentang Yosua tidak dapat dipisahkan dari tempat ini. Dengan memperhatikan keterangan di atas maka seluruh anggota panitia pembangunan Majelis Jemaat Bajem XIV Pesanggrahan sepakat untuk mengusulkan nama “Gibeon” kepada PHMJ Effatha. Tugas panitia selanjutnya adalah mewujudkan nama Gibeon dalam bentuk gedung, yakni Gedung Gereja Gibeon yang menjadi tugas utama panitia bersama seluruh warga jemaatnya.

PERUBAHAN SEKTOR PELAYANAN

Memperhatikan luas wilayah pelayanan dan pertambahan jumlah warga jemaat, maka untuk dapat memberikan pelayanan yang efektif, dilakukan pemekaran menjadi 7 sektor pelayanan yang disesuaikan pula dengan penyebaran domisili warga yaitu :

Sektor Pelayanan I, meliputi : kompleks perumahan uniliver dan sekitarnya, dengan Koordinator Penatua H.P.Nainggolan.

Sektor Pelayanan II, meliputi : komplek CPM, Petukangan Selatan dan sekitarnya, dengan Koordinator Rudy N.F.Tambayong.

Sektor Pelayanan III, meliputi : komplek/Asrama Arhanud dan sekitarnya, dengan Koordinator Penatua M.I.Nicky Ginoga.

Sektor Pelayanan IV, meliputu : Tanah Kusir, Nimun Raya, kompleks perumahan Polri Ulujami, dan sekitarnya, dengan Koordinator H.K.Ririhena.

Sektor Pelayanan V,meliputi : Jl Cempaka, Kesehatan dan kompleks perumahan Bintaro jaya, kecuali Bintaro Sektor 4, dengan Koordinator Dkn.Ny. Willy Tuapattinoya.

Sektor Pelayanan VI, meliputi : kompleks Perumahan Bintaro Permai, Jl Kopi Kompleks Perumahan Meteorologi dan sekitarnya, dengan Koordinator Penatua Supono.

Sektor Pelayanan VII, meliputi : perumahan Bintaro Jaya Sektor, Jurang Mangu Indah terus hingga Taman Mangu Indah, dan sekitarnya, dengan Koordinator Diaken Leopold Kaha.

PHMJ GPIB JEMAAT GIBEON YANG PERTAMA

Setelah pelembagaan, langkah pertama untuk mempersatukan pelayanan adalah membentuk atau menyusun personalia Pengurus Harian Majelis. Jemaat GPIB Gibeon agar segala urusan berjalan dengan lancar , maka tepatnya pada tanggal 11 April 1987 tersusunlah Personalia PHMJ GPIB Gibeon yang pertama dengan SK No. 231/87/MS/XIV/Kpts.

Susunannya adalah sebagai berikut :

Ketua                    : Pendeta MJA Mailoa

Ketua I                  : Diaken Ny. W. Tuapattinaya

Ketua II                : Penatua M. Renyaan

Ketua III               : Penatua MT. Angkuw

Ketua IV               : Diaken Rudi Bimbuain

Sektetaris            : Diaken W. Sartono

Sekretaris I         : Diaken Ny. Dhany Kore Doko

Sekretaris II        : Diaken Yaapi Soleman Waani

Bendahara          : Penatua MC Laoh

Bendahara I        : Diaken RB Haulussy

Masa tugasnya berlaku terhitung mulai tanggal 29 Maret 1987 sampai dengan tanggal 31 Oktober 1988.

Mengenai badan pelaksanaan atau yang disebut Bidang Pelayanan Kategorial sama halnya dengan Majelis Jemaat Bidang Jemaat XIV GPIB Effatha dikukuhkan menjadi Sidang Pelayanan Kategorial (BPK) Jemaat GPIB Gibeon. Bidang-bidang pelayanan meliputi kebaktian anak, kebaktian remaja, gerakan pemuda, persatuan wanita, dan persekutuan kaum bapak. Perlu diketahui bahwa kebaktian anak kemudian berubah menjadi pelayanan anak, untuk sektor I, II dan III dilaksanakan di Gereja Gibeon sedangkan pelayanan di sektor-sektor lainnya di rumah masing-masing anggota jemaat

Ibadah mingguan dalam periode 1987-1992 dilaksanakan dua kali di Gereja Gibeon pada pukul 09.00 wib dan pukul 18.00 wib. Sedangkan di sektor VII (Pos Pelayanan) kebaktian diadakan sebulan sekali setiap minggu kedua dengan cara berpindah pindah di Jurang Mangu Indah dan Taman Mangu.

Dalam kurun waktu lima tahun bertugas melayani jemaat GPIB Gibeon, pendeta M.J.A Mailoa tinggal di rumah kontrakan dan selama periode bertugas, beliau tiga kali pindah rumah kontrakan. Sebenarnya rumah tinggal untuk pendeta (pastori) ada di perumahan Karya Indah Village sudah diusahakan dan dibeli oleh pengurus harian majelis dengan harga sesuai akta pembelian sebesar Rp.31 juta lebih tapi rumah tersebut belum bisa ditempati karena ada kesalahpahaman soal kepemilikan. Dengan demikian dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun, hingga akhir masa tugasnya tanggal 28 Februari 1992, rumah pastori dalam keadaan kosong. Kemudian terhitung tanggal 1 Maret 1992 Pendeta Arnold Hary Sundah ditempatkan sebagai Ketua Majelis Jemaat menggantikan Pendeta MJA Mailoa.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Scroll to Top